Home » RuangPegawai Talk! » [RTALK] Ngulik Tugas Wartawan Media Online Bersama Raisa Adila

[RTALK] Ngulik Tugas Wartawan Media Online Bersama Raisa Adila

Wartawan Media Online - Raisa Adila

RUANGPEGAWAI.com – Perubahan dari era konvensional ke digital telah mempengaruhi berbagai lini bidang pekerjaan. Salah satunya adalah bidang media dan komunikasi. Jika dulu hanya ada media cetak seperti koran dan majalah, kini media-media tersebut telah merambah ke dunia digital. Hal ini dikarenakan gaya hidup masyarakat juga telah berubah.

Masyarakat lebih sering membaca informasi melalui media online daripada media cetak. Pada akhirnya munculah berbagai media online yang menyuguhkan berita dan informasi yang lebih interaktif lagi.

Nah, kali ini RuangPegawai Talk! ingin ngulik sedikit profesi yang berhubungan dengan media online. Bisa dikatakan profesi ini sangat penting bagi perkembangan media online itu sendiri, yaitu Wartawan Media Online.

Lalu apakah tugas dari wartawan media online ini sama dengan wartawan media konvensional? Daripada dibuat bertanya-tanya lebih baik kita tanya langsung sama Raisa Adila, perempuan yang berdomilisi di Jakarta Selatan dan kini tengah berkarier di sebuah media online ternama di Indonesia.

***

Raisa Adila saat ini berprofesi sebagai wartawan media online dan sudah hampir 3 tahun ia berkarier di profesi ini, tepatnya sejak Oktober 2013. Cukup lama ya…

Berbeda dengan Andra Nur Oktaviani yang mulai melirik profesi jurnalis sejak SMA, Raisa ini justru sejak SD bercita-cita ingin menjadi wartawan. Ia ingin menjadi seseorang yang dapat mencari fakta dan menginformasikannya ke masyarakat. Selain itu juga ingin membangun opini publik. Itulah alasannya mengapa berprofesi di bidang ini.

Baca juga : [RTALK] Profesi Jurnalis (Reporter) ala Andra Nur Oktaviani

Bagaimana, apakah kamu juga punya cita-cita ingin jadi wartawan? Jika iya, jangan kubur cita-cita mu itu. Karena menurut perempuan lulusan S1 Jurusan Ekonomi ini, untuk berprofesi sebagai wartawan bisa didapatkan dari latar belakang pendidikan apa saja. Intinya kalau suka dengan pekerjaan itu kita pasti akan banyak mencari informasi tentang itu dan mempelajarinya.

“Sekolah di mana dan bidang mana aja bisa. Pekerjaan itu menurut saya adalah passion. Kalo suka sama kerjaannya kita pasti banyak nyari tau dan belajar secara otodidak,” begitu tulisnya saat ditanya melalui email.

Sedangkan tugas pokok dari profesi wartawan media online ini intinya ya sama dengan wartawan pada umumnya. Dari penjelasan Raisa, job desc profesi ini yakni mencari berita, mencari narasumber yang relevan, dan mengemas berita supaya layak disajikan kepada masyarakat.

Yang namanya pekerjaan apapun itu pasti ada suka dukanya. Termasuk profesi ini. Menurut pengalaman Raisa, jika ingin berprofesi sebagai wartawan khususnya wartawan media online harus tahan banting. Karena kadang berita yang telah disajikan kepada masyarakat tidak bisa diterima oleh masyarakat dan itu membuat pihak media dan khususnya wartawan menjadi di-bully habis-habisan.

Selain itu tidak mudah juga mencari narasumber yang mudah diajak bicara. Jadi perlu untuk membangun jaringan yang luas.

Tetapi tenang, tantangan itu semua pasti akan bisa dihadapi jika dengan hati dan pikiran yang tenang. Apalagi kalau memang sudah suka dengan bidang pekerjaan ini.

Karena profesi wartawan ini sering lari sana lari sini untuk mencari berita dan mengejar narasumber, untuk itu harus memiliki fisik dan mental yang kuat. Menjadi seorang wartawan tidak boleh ngeluh kalau pas ada hujan, atau cuaca lagi panas-panasnya. Kalau di waktu itu memang harus mencari berita ya harus dilakukan segera.

Apabila menjadi seorang wartawan bisa bekerja dengan baik, jangan khawatir jika nanti kelas. Karena profesi ini ada jenjang kariernya. Mulai dari reporter, asisten redaktur, redaktur, redaktur pelaksana, hingga pimpinan redaksi.

Media mainstream sekarang ini memang tengah mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat. Salah satunya dikarenakan oleh tingkat independensi dari berita yang disajikan. Hal menarik yang diungkapkan Raisa adalah ketika mengakut masalah penghasilan yang diterima.

Menurutnya, penghasilan seorang wartawan lapangan saat ini kurang sesuai dengan risiko yang didapatkan. Ini berkaitan juga dengan sisi independen dari media itu. Seorang wartawan tentu harus dituntut untuk menjaga independesi dari media itu. Oleh karena itu, wartawan rawan untuk ditunggangi pihak-pihak yang tidak berkepentingan untuk memberitakan sesuatu yang tidak layak diberitakan. Sehingga praktek suap dikalangan wartawan pun menjadi momok besar di era digital saat ini.

Untuk itu pemberian penghasilan yang tinggi tentu akan bisa meminimalisir kegiatan tidak terpuji itu. Sehingga para wartawan bisa benar-benar bekerja secara independen tanpa ditekan oleh pihak-pihak lain yang tidak berkepentingan.

Tetapi ya itu kembali ke pribadi masing-masing, bagaimana menyikapi tantangan profesi yang dihadapi.

Terakhir, Raisa punya saran untuk kalian para anak muda yang ingin memiliki profesi yang sama dengannya. Raisa berpesan jika ingin berprofesi sebagai wartawan, harus punya passion. Jika tidak maka akan sulit menjalani pekerjaan ini.

Raisa Adila
Wartawan Media Online
Twitter@raisaadilaa
Instagram : adila.raisa
Web / Blog : raisaadilaa.com