Dear Bos, Aku Ingin Naik Gaji Bukan Untuk Ego Ku Sendiri, Ada Sisi Lain Yang Harus Ku Penuhi

Dear Bos, ketahuilah jika aku ini tulus ikhlas bekerja di perusahaanmu. Aku rela berangkat pagi pulang malam hanya ingin menuntaskan segala pekerjaan yang engkau berikan kepada ku.

Kadang, aku harus merelakan untuk bisa bercengkarama dengan keluarga ku di rumah dan memilih untuk menyelesaikan tugas ku hingga larut malam. Bagiku, pekerjaan ini adalah amanah yang Tuhan berikan kepada ku.

Tapi bos, aku hidup tidak sendiri. Aku harus menghidupi keluarga ku, istri ku, anak-anak ku, dan orang tua ku yang tak bisa mencari nafkah lagi.

Beban hidup ku semakin banyak tak seperti ketika masih sendiri.

Bos… aku ingin engkau mengerti, kalau aku ingin naik gaji. Percayalah bos, ini bukan sekedar ego ku sendiri. Ada sisi lain yang harus ke penuhi.

Istri Ku Memasak Ala Kadarnya Karena Tak Cukup Biaya

Bos, ketahuilah, jika aku pulang, kadang aku bertanya pada istri. “Masak apa hari ini mah,” tanyaku penuh cinta kepada sang istri. Dengan sabarnya istriku menjawab, “Hanya masak nasi sama lauk tempe plus sambal saja pah.

Aku tak sanggup menjawabnya lagi, bahkan untuk memarahi. Aku berusaha selalu tersenyum dan memakan apa yang telah disajikan istri.

Ku ajak anak-anak ku untuk menyantap hidangan yang sangat sederhana ini. Dan mereka tak selalu menolak makan apapun masakannya.

Namun, hati ini kadang menangis, melihat istri dan anak-anak ku tak mampu menikmati hidangan yang lebih enak lagi. Aku ingin sekali-kali mengajak keluarga ku makan ke rumah makan anak masa kini. Tapi, aku tak punya dana lebih untuk mengajak mereka bisa menikmati makanan masa kini.

Gaji ku sudah habis ku berikan istri untuk kebutuhan sehari-hari.

Ketika Anak Ku Minta Beli Buku, Aku Hanya Bisa Berjanji

Anak Merengek

Image via Vemale.com

Ketahuilah bos, anak-anak ku masih duduk dibangku sekolah semua. Pernah suatu ketika aku tanya mereka, “Ingin jadi apa kau nak ketika sudah besar nanti,“. Anak ku yang paling bungsu menjawab, “Jadi Presiden yah, biar bisa bantu orang miskin, biar orang miskin di negeri ini tidak ada lagi,“.

Anak ku memang masih lugu. Tapi aku selalu mendoakan semoga ia kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dan lebih baik dari ayahnya.

Ketika anak ku meminta dibelikan buku untuk bahan belajarnya, aku hanya bisa berjanji bulan depan kalau ayah sudah dapat gaji. Tapi lagi-lagi, aku tak selalu bisa menyisihkan uang untuk merealisasikan janji ku kepada anak ku. Kadang aku malu dengan anak ku.

Ketika Keluarga Ku Ada Yang Sakit, Aku Hanya Bisa Membelikan Obat Generik

Meskipun sekarang sudah ada BPJS, tapi bos tidak memfasilitasi kami dengan itu. Boro-boro mau daftar BPJS secara mandiri, biaya buat makan sehari-hari saja sudah sangat minim.

Ketika ada keluarga ku yang sakit, aku hanya bisa membelikan obat generik. Kadang cuma obat yang ada di warung, meskipun sebenarnya perlu dibawa ke dokter. Bahkan aku pernah meminta obat dari tetangga ku yang baru saja dari dokter. Aku meminta beberapa karena aku tak sanggup membelikannya obat untuk keluarga ku.

Kadang aku juga malu sama tetanggaku karena membeli obat saja tak mampu.

Ingin Rasanya Menabung Tapi Apa Yang Ingin Ditabung

Aku juga ingin punya uang simpanan bos, ingat, uang simpanan bukan istri simpanan. Kadang, ada saja kebutuhan mendesak yang memerlukan uang tak sedikit. Kalau pas musim kondangan, itu sangat menyiksa buat kami bos. Aku perlu uang untuk nyumbang ke kondangan.

Belum lagi kebutuhan mendesak lainnya, kadang aku harus hutang sama tetanggaku. Sunggu malu aku jika sampai hutang kepada tetanggaku.

Sebagai muslim, aku juga ingin naik haji bos, bukan saja naik gaji. Tapi apa daya tak ada tabungan untuk biaya ongkos naik haji.

Aku tahu ini mungkin juga berat untuk mu bos. Aku tak tahu bagaimana kondisi keuangan perusahaan mu. Aku hanya sebatas pegawai mu yang selalu mengerjakan apa yang menjadi tugas-tugas ku.

Aku bukan pengemis di perusahaan mu bos. Tapi aku hanya ingin bos sadar, bahwa ada hak-hak pegawai mu yang perlu engkau penuhi. Kami diam karena kami bertahan untuk tetap mensyukuri. Tapi kami kadang tak tahan dengan keadaan ini. Lagi-lagi ini demi keluarga kami bos.

Mengertilah bos, keinginan kami bukan sekedar ego dari diri kami, tapi ada sisi lain yang perlu kami penuhi.

S Adi Firmansyah

S Adi Firmansyah

Creative Blogger. Ingin sharing pengalaman profesi kerja kamu? Bisa dikirimkan sekarang juga di sini Kirim Artikel Sekarang!

Website - - Twitter - Facebook - LinkedIn - IG

You may also like...