Nasib Perantau, Ingin Pulang Malu Tak Pulang Rindu

Perantauan - Pulang malu

“Pulang malu tak pulang rindu, karna nasib belum menentu, pada siapa aku mengadu, pulang mau tak pulang rindu…”

Merasa kenal dengan kalimat di atas? Ya, itu adalah bagian lirik dari lagu Pulang Malu Tak Pulang Rindu milik Armada. Namun, kali ini RuangPegawai tidak akan mengulas masalah lagu itu, melainkan untuk sedikit memberikan motivasi kepada rekan-rekan pegawai yang saat ini memang sedang bekerja jauh dari kampung halamannya, merantau.

Menjadi perantauan itu memang mengasyikan. Selain dapat teman baru, juga akan mendapatkan pengalaman baru yang di kampung halaman tentu tidak akan didapatkan.

Meninggalkan orang-orang yang dicintai seperti orang tua, anak, istri, saudara, sudah menjadi resiko bagi setiap perantau. Toh dengan merantau sebenarnya juga agar bisa membuat mereka yang di kampung halaman menjadi tersenyum bahagia. Tentu harapannya agar kita mendapatkan penghasilan yang lebih saat di tanah rantau.

Akan tetapi karena faktor penghasilan inilah tak jarang yang membuat perantau menjadi galau. Seperti yang disampaikan di lirik lagu Armada itu, pulang malu tak pulang rindu, seakan menjadi momok bagi para perantau yang merasa nasibnya di perantauan belum menentu.

Para perantau merasa malu jika diperantauan belum bisa ‘sukses’. Sehingga prasangka-prasangka inilah yang tak jarang membuat para perantau tak pulang ke kampung halaman bertahun-tahun lamanya.

Baca juga : Alasan Seseorang Enggan Pulang Dari Perantauan

Nah, kalau sebagian dari Anda ada yang mengalami hal seperti ini, sebaiknya mulai sekarang hilangkan mindset seperti itu. Rasa malu itu wajar, tapi untuk yang satu ini sebaiknya dihilangkan dari benak diri Anda.

Karena Anda tak perlu merasa malu tentang apa yang sedang Anda dapatkan sekarang.

Yang namanya hidup pasti kadang ada di bawah dan di atas. Dalam hal pekerjaan pun juga seperti itu. Kalau memang di perantauan belum menentu, ya apa boleh buat. Yang penting kalau ada waktu untuk pulang ke kampung halaman ya usahakan untuk pulang. Karena itu untuk menjalin silahturahim dengan keluarga dan saudara yang lama tak jumpa.

Tugas utama Anda yang penting adalah berusaha. Selama Anda di tanah rantau sudah berusaha maksimal, tetapi belum membuahkan hasil, ya coba lagi jangan berhenti.

Masalah tentu atau belum menentu itu hanya soal bagaimana Anda memandang hidup Anda sendiri. Jangan sampai masalah pekerjaan memutus hubungan kekeluargaan.

Kalau Anda mengalami masalah seperti ini, sebaiknya lakukan beberapa hal berikut :

#1 Instropeksi diri

Ketika Anda ‘merasa’ belum menjadi apa-apa di tanah rantau, mungkin Anda memang belum melakukan untuk mencapai yang Anda inginkan. Untuk itu, cobalah untuk instropeksi diri. Kesampingkan dulu sifat keras kepala Anda, dan coba melihat ke belakang tentang apa saja yang telah Anda lakukan.

Kelompokan hal-hal positif dan negatif yang telah Anda lakukan di tanah rantau. Berkomitmenlah untuk mencoba menghilangkan hal negatif, dan memperkuat hal positif.

Misalnya saja Anda di tanah rantau katakannya Jakarta, ketika gajian tiba malah Anda gunakan untuk berpesta. Itu sah-sah saja, tetapi dengan kondisi Anda yang sebagai perantauan kadang hal-hal seperti itu membuat Anda tidak bisa mendapatkan penghasilan yang bisa disisihkan untuk keluarga di kampung halaman. Selain itu, gaya hidup Anda juga akan berubah. Itu salah satu penyebab Anda tidak bisa sukses saat di perantauan.

#2 Mencari pekerjaan lain

Jika Anda ‘merasa’ masih belum menentua di pekerjaan sekarang, cobalah untuk mencari pekerjaan baru yang lebih memberikan peluang baru untuk diri Anda di perantauan. Ketika Anda berapa di tanah rantau, jangan takut untuk mencoba hal-hal baru (yang positif).

Karena bisa jadi hal-hal baru itu akan membuka pintu-pintu rejeki lainnya.

#3 Melihat pergaulan

Efek lain yang membuat kerja di tanah rantau belum menentu adalah pergaulan. Bisa jadi Anda berada di pergaulan yang salah dan tidak tepat dengan kondisi Anda sekarang. Misalnya ketika Anda memiliki penghasilan yang pas-pasan, tetapi pergaulan Anda di tanah rantau berada di kehidupan yang glamour. Tentu itu tidak akan seimbang dengan apa yang Anda punya.

Baca : Jangan Asal Pilih Teman Ketika Bekerja Di Perantauan

#4 Libatkan Tuhan

Apa yang Anda lakukan bisa saja belum mendapatkan ridho-Nya. Hal ini dikarenakan Anda tidak pernah melibatkan Tuhan disetiap pekerjaan yang Anda lakukan. Sebagai hamba yang tak punya apa-apa, tentu kita harus melibatkan-Nya agar selalu diberi rejeki dan karunia-Nya.

#5 Dijalani, Dinikmati, Disyukuri

Yang terakhir adalah Anda cukup menjalani apa yang telah Anda lakukan (dalam hal ini pekerjaan Anda), lalu dinikmati tanpa beban karena beban hanya akan membuat Anda berat untuk menjalaninya dan yang paling penting adalah mensyukuri apa yang telah Anda dapatkan.

Anda perlu bersyukur karena di perantauan sudah mendapatkan pekerjaan. Mau penghasilan pas-pasan, kerjaan pindah-pindah, yang penting perlu disyukuri. Dengan bersyukur Anda akan merasa lebih bahagia dan jika sudah bahagia Anda tak akan merasakan hal-hal negatif yang menghantui Anda selama di perantauan.

S Adi Firmansyah

S Adi Firmansyah

Creative Blogger. Ingin sharing pengalaman profesi kerja kamu? Bisa dikirimkan sekarang juga di sini Kirim Artikel Sekarang!

Website - - Twitter - Facebook - LinkedIn - IG

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 4 =