Membantu Bekerja

“Membantu”, Motivasi Dalam Bekerja Yang Paling Dalam

Banyak sekali yang menjadi latar belakang motivasi dalam bekerja bagi setiap orang. Dan yang menjadi alasan paling banyak adalah untuk mencari uang. Mungkin ini juga yang menjadi alasan Anda.

Ya..tak ada yang salah dengan alasan tersebut. Memang dalam hidup ini kita membutuhkan uang untuk bisa memenuhi keperluan. Tapi, yakinlah uang bukan segalanya. Bagi saya, jika bekerja hanya dilatarbelakangi hanya untuk “mencari uang” sepertinya kurang greget saja dalam bekerja dan tentunya bikin capek.

Ini opini saya…

Karena begini, jika motivasi bekerja hanya ingin mendapatkan uang apalagi uang yang banyak, maka semakin lama motivasi itu akan membutakan mata hati kita. Yang ada dibenak kita hanya bagaimana mendapatkan uang banyak, dan jika tidak mendapatkannya maka akan stress. Percaya atau tidak, hal itu akan menumbuhkan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh hukum maupun agama.

Salah satu masalah kecil adalah munculnya “Ketidakpuasan dan Keserakahan“.

Serakah

Sayangnya, ketidakpuasan ini bukan diimbangi dengan meningkatkan etos kerja yang lebih baik, tapi justru malah menyalahkan pihak lain bahkan melakukan cara curang untuk mendapatkan kepuasan dari segi finansial.

Ketidakpuasan ini juga memunculkan keserakahan, serta tidak memiliki rasa syukur atas apa yang telah didapatkan.

Saya rasa para koruptor, motivasi bekerjanya juga seperti itu, mencari uang sebanyak-banyaknya tapi tanpa diimbangi etos kerja yang baik. Mereka hanya mengandalkan nafsu keserakahan yang pada akhirnya terjerumus pada hal yang dilarang.

Lalu sebaiknya apa motivasi dalam bekerja yang dimiliki oleh setiap orang?

“MEMBANTU….”

Kalau kita mau merenungi sebuah pekerjaan, maka bekerja adalah sebuah kegiatan bantu membantu antar tiap orang. Bukan semata-mata untuk mencari uang. Tujuan utamanya adalah membantu, sedangkan uang hanyalah salah satu dari hasil yang didapatkan dari membantu. Ingat, salah satu hasil bukan satu-satunya hasil. Sehingga kalau tidak mendapatkan uang banyak, mungkin sisa hasil yang kita dapatkan adalah kesehatan untuk diri kita dan keluarga, jaringan atau relasi yang luas, makanan dari rekan, pakaian dan lainnya. Tapi sayangnya kita tidak menyadari akan hal itu.

Sayangnya masih banyak yang mengartikan uang adalah satu-satunya hasil.

Uang Bukan Segalanya

Image via www.duniaprofesional.com

Seorang Owner Perusahaan ingin membuat lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang menganggur atau yang memiliki ketrampilan agar bisa disalurkan. Di sini sang owner membantu orang mendapatkan media untuk menyalurkan tenaganya, ketrampilannya, pemikirannya agar tidak sia-sia (nganggur). Atau seorang owner memiliki cita-cita untuk membangun perusahaan yang bisa membantu perkembangan daerah atau kotanya.

Seorang Pegawai ingin membantu merealisasikan cita-cita (visi misi) perusahaan tersebut dengan menyumbangkan ilmunya, tenaganya, ketrampilannya untuk membangun perusahaan itu bersama-sama. Selain membantu sang owner, juga membantu rekan pegawai lainnya yang mungkin memiliki cita-cita lain, misalnya ingin mengasah kemampuan yang dimilikinya.

Dengan demikian, antara Owner dan seluruh lapisan yang ada di perusahaan memiliki motivasi yang sama yaitu “Membantu” satu sama lain.

Secara tidak langsung maka kondisi ini akan memunculkan hubungan kerja yang sangat positif dan saling memotivasi. Semua akan melakukan yang terbaik dan menciptakan iklim kerja yang produktif.

Dan pada akhirnya kita hanya menerapkan ilmu “Terima Kasih“.

Jika kita sudah menerima, ya harus ngasih (memberi).

Bapak Jualan

Mindset ini harus kita miliki sekarang juga jika ingin memiliki kehidupan di dunia yang lebih baik dan bahagia. Jika hanya memperhitungkan materi saja, ya pastinya kan timbul suasana yang tidak kondusif.

Masalahnya adalah masyarakat kita sudah sangat terjerumus oleh keadaan ini, semua dinilai dari materi dan uang.

Seakan uang menjadi solusi atas masalah yang harus dihadapi.

Ingin masuk perusahaan harus pakai “uang“, ada lho… Kena stop Polisi pakai ngasih “uang”. Nah, kira-kira kasus Polisi yang minta uang itu awalnya salah siapa? Saya rasa salah masyarakatnya yang pakai ngasih “uang damai” buat polisi. Padahal kan bisa diselesaikan lewat sidang. Kasus semacam ini akhirnya yang membudaya hingga sekarang dan membuat Polisi pun juga membuka ruang untuk minta ‘pesangon‘.

Ya gitulah kalau motivasinya karena “uang“…

Memang berat untuk merubah pemikiran dan budaya itu semua. Aturan pun tidak bisa merubah pemikiran ini, Undang-Undang bahkan Peraturan Presiden (PP) pun tidak bakal merubahnya.

Lalu apa yang bisa merubah?

Ya diri kita sendiri…

Jika Anda membaca artikel ini secara sadar dan dengan pemikiran yang terbuka tanpa mengutamakan ego Anda, mari kita mulai dari diri kita masing-masing mulai hari ini.

impossible

Awalnya memang aneh, merasa ini tidak mungkin dan tentunya sangat berat, apalagi ini menyangkut uang yang sudah melekat dibenak kita bertahun-tahun. Tapi saya sangat yakin, jika semua orang telah memiliki pemikiran dan motivasi seperti ini, maka semua akan bahagia tanpa mempedulikan berapa uang yang dipunya.

Koruptor akan mati sendiri karena budaya dan iklim kerja yang positif.

Ini adalah mimpi dan opini saya pribadi…Jika Anda merasa ini tidak sesuai, berarti Anda termasuk orang yang mengutamakan uang. Tapi jika Anda setuju dengan ini, Selamat…Anda adalah revolusioner. 😀

Selagi lagi ini hanya sebuah opini saya pribadi, mohon dimaafkan jika ada kesalahan namun semoga bisa menjadikan arahan yang lebih baik bagi diri saya pribadi dan juga Anda sekalian.

Salam dari saya untuk hidup yang lebih bahagia 🙂

S Adi Firmansyah

S Adi Firmansyah

Creative Blogger. Ingin sharing pengalaman profesi kerja kamu? Bisa dikirimkan sekarang juga di sini Kirim Artikel Sekarang!

Website - - Twitter - Facebook - LinkedIn - IG

You may also like...