Keuangan Keluarga
image via iyaa.com

Atur Keuangan Keluarga Agar Tak Jadi Petaka

Rumah tangga retak karena pasangan selingkuh sudah biasa, tapi kalau gara-gara masalah keuangan? Ya banyak! Buktinya banyak keluarga yang ujung-ujungnya retak karena masalah ekonomi keluarga.

Pekerjaan dan keluarga memang sangat erat hubungan. Terlebih kalau sudah berurusan dengan keuangan. Untuk itu sebaiknya dalam mengelola keuangan keluarga harus dilakukan dengan seksama. Perlu sinergi antara suami dan istri.

Bukan masalah besar kecilnya keuangan yang ada, tapi justru lebih kepada keterbukaan antara suami dan istri dalam mengatur sirkulasi uang yang ada.

Biasanya masalah yang ada dalam keluarga yang dipicu oleh masalah keuangan itu muncul karena beberapa hal.

  1. Dalam satu keluarga hanya suami/istri saja yang bekerja, tapi penghasilan minim sedangkan kebutuhan keluarga semakin tinggi.
  2. Salah satu pasangan suka pemborosan, belanja yang tidak penting.
  3. Terlalu gengsi dengan tetangga, pengennya bergaya hidup mewah tapi ekonomi standar bawah.
  4. Banyak hutang karena tuntutan semakin besar.
  5. dan masih banyak lagi penyebabnya.

Alangkah baiknya, untuk urusan keuangan keluarga ini perlu disikapi dengan serius. Lakukan diskusi dengan pasangan soal bagaimana mengatur keuangan. Agar lebih mudahnya, coba lakukan beberapa hal ini.

1. Terbuka Dengan Pasangan

Terbuka Dengan Pasangan

Kalau sudah berpasangan secara legal, ya harus terbuka terutama masalah keuangan. Jangan pernah menutup-nutupi kebutuhan pribadi. Keterbukaan ini nantinya akan menghasilkan daftar kebutuhan masing-masing pasangan dan kebutuhan bersama untuk keluarga.

Beruntunglah jika Anda dan pasangan sama-sama bekerja, itu artinya pemasukan lebih besar, tapi jika yang bekerja hanya suami atau istri, pengelolan keuangan perlu didiskusikan lebih dini.

Kalau sudah sama-sama terbuka, susunlah anggaran rumah tangga, baik untuk kebutuhan suami, istri, anak dan untuk kebutuhan keluarga.

2. Jangan Satukan Uang Dalam Satu Tempat

Uang

Artinya jika sudah punya anggaran dan rincian kebutuhan, uang yang ada jangan disatukan dalam satu tempat. Pisahkan dalam beberapa amplop sesuai dengan kebutuhannya. Soalnya kalau tidak dipisahkan, kadang tidak sadar pas ada kebutuhan mendesak asal ambil saja, dan setelah sadar dana untuk kebutuhan primer sudah habis. Repot kan!

Tapi ingat, jika sudah memisahkan dalam beberapa bagian atau amplop, Anda dan pasangan juga harus komitmen. Jangan sampai dana untuk kebutuhan A malah diambil untuk kebutuhan B. Nanti tambah repot!

Baca juga: The Power of Celengan, Cara Asyik Kelola Keuangan

3. Saling Mengingatkan

saling mengingatkan

Sebagai pasangan yang uhuy, Anda harus mengingatkan pasangan begitu juga sebaliknya.  Ya namanya manusia kadang nafsu bisa tak terbendung. Karena hanya ingin ikut-ikutan tetangga, terus pengen beli ini itu. Padahal sudah jelas dana terbatas dan tak ada didaftar anggaran.

Mengingatkan bukan melarang, mengingatkan adalah bentuk kecintaan. Sampai dengan nada yang pelan, tak perlu seperti menekan. Nanti ndak dikira melarang.

4. Batasi Keinginan Anak

Anak Suka Jajan

Bersyukurlah jika Anda adalah pasangan muda yang belum dikaruniai seorang anak. Tapi jika Anda sudah punya anak, maka beban ekonomi akan bertambah lagi. Kalau anak sudah beranjak besar, biasanya akan suka jajan sembarangan. Batasi keinginan anak tanpa harus membentak.

Sekali-kali ajak anak untuk diskusi masalah keuangan keluarga. Ini juga termasuk edukasi untuk si anak agar anak tahu dan paham kondisi ekonomi keluarganya. Sehingga ke depannya si anak bisa tahu diri jika ingin sesuatu yang dirasa itu berat untuk dibeli.

5. Jangan Ngutang

Jangan Ngutang

Plis, jangan pernah ngutang. Sejatinya ngutang hanya akan membawa hidup Anda menjadi suram. Boleh berhutang, tapi pastikan Anda berkomitmen bisa membayarnya dengan cepat, dan itu pun hanya untuk kebutuhan yang urgent saja. Tidak perlu kredit ini itu, hanya untuk gengsi.

Ngutang itu hanya enak di depan, belakangnya hanya bikin sengsara. Terlebih jika ada riba. Sesungguhnya ngutang adalah beban keluarga.

Baca juga: Pentingkah Kartu Kredit Untuk Karyawan?

***
Yang terpenting dalam mengelola keuangan rumah tangga itu adalah keterbukaan dan keikhlasan. Jangan pernah mengeluh atas rejeki yang diterima suami/istri. Kalau dapatnya segitu ya berarti rejekinya segitu. Yang penting sudah berusaha.

Tetaplah berusaha tanpa harus menyalahkan keadaan. Tetap berdoa dan berusaha, nikmati hasilnya.

S Adi Firmansyah

S Adi Firmansyah

Creative Blogger. Ingin sharing pengalaman profesi kerja kamu? Bisa dikirimkan sekarang juga di sini Kirim Artikel Sekarang!

Website - - Twitter - Facebook - LinkedIn - IG

You may also like...